Peningkatan angka kejahatan masa pandemi

Peningkatan angka kejahatan masa pandemi

Sejumlah berita kejahatan yang menonjol berjalan saat pandemi covid-19. Kebutuhan tinggi saat ini ditengarai ikut mempengaruhi. Belum ulang pembebasan ribuan narapidana bersama dengan dalih kurangi risiko penyebaran didalam sel. Sejumlah persoalan perampokan jadi yang paling mengambil perhatian. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar mengatakan pelaku menargetkan minimarket atau toko yang menjajakan keperluan sehari-hari.

Sementara itu peningkatan angka kejahatan sepanjang masa pandemi corona sekitar 11,8 persen. Peningkatan terbanyak saat ini adalah pencurian bersama dengan perampokan. Kriminolog berasal dari Universitas Indonesia mengatakan keterbatasan gerak sepanjang masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membawa dampak masyarakat banyak yang tak mampu mencukupi keperluan sehari-harinya.

Peningkatan angka kejahatan masa pandemi

Penjelasan Peningkatan angka kejahatan masa pandemi

Sehingga rasa frustasi itulah yang menurut Reza mampu membawa dampak seseorang untuk jalankan tindak kekerasan dan kejahatan. “Teori klasik, Teori Frustrasi Agresi. Orang yang frustrasi mampu jalankan kompensasi bersama dengan jalur agresi, kekerasan, dan kejahatan,”

Apalagi masa pandemi dan PSBB diterapkan dimana keperluan masyarakat jadi meningkat. Dia juga mengatakan di sejumlah negara barat, hasil riset tunjukkan bahwa tingkat kejahatan selalu naik setiap menjelang hari libur, utamanya kejahatan properti. Kejahatan properti adalah kejahatan yang juga di dalamnya pencurian, perampokan, pencurian kendaraan bermotor, kejahatan bersama dengan pembakaran atau pencurian barang di toko swalayan.

“Orang-orang mengasosiasikan Natal bersama dengan masa peningkatan kebutuhan. Kejahatan dikerjakan untuk mencukupi kebutuhan. Analoginya, kondisi Ramadan boleh jadi demikian,” Dia juga menyoroti pembebasan napi lewat program asimilasi dan integrasi untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Menurutnya pembebasan napi boleh jadi tepat gara-gara penerapan protokol pencegahan corona di lapas, layaknya phisycal distancing adalah yang mencuat sebagai problem untuk diterapkan. Namun demikian, pembebasan para napi justru mampu menaikkan risiko lain di masyarakat yakni kejahatan yang meningkat. Para napi itu berpotensi untuk mengulangi perbuatan kriminal yang telah dilakukan ataupun diketahui.

Pemerintah juga yang dapat dirugikan gara-gara sudah mengeluarkan biaya untuk membina para napi tersebut, tapi ternyata terkesan sia-sia. Dia juga mengkritik sejumlah pihak yang tunjukkan angka residivisme relatif rendah dibanding jumlah total napi yang dibebaskan.

Karena itu ia mengingatkan pemerintah supaya tak cuma bekerja keras, tapi juga mesti cerdas mengatasi hal ini. Berbagai cara sudah dikerjakan pemerintah untuk meredam imbas sosial ekonomi wabah corona. Pembagian paket bahan keperluan pokok adalah salah satunya. Bantuan paket sembako bukan cuma mampir berasal dari pemerintah daerah juga berasal dari pemerintah pusat. Bantuan ini dikhususkan bagi warga miskin yang terdampak corona.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *